TYM

TYM
BERKATNYA MELIMPAH

Rabu, 25 Maret 2020

YESUS MENGHIDUPKAN, WABAH MATI

Wabah Mematikan, Tapi Yesus Menghidupkan

"Inilah saatnya kita semua sadar bahwa mengandalkan kemampuan sendiri/manusia, menunjukkan kekuatan senjata dan mengandalkan kecanggihan teknologi pun kalah di hadapan virus yang mematikan ini. Akhirnya kita sadar bahwa kita memerlukan Tuhan dan kuasa-Nya untuk mengusir ketakutan kita, membangkitkan harapan dan menyembuhkan serta memulihkan kita."

Injil hari ini mengisahkan tentang sang pegawai yang datang kepada Yesus untuk meminta menyembuhkan anaknya yang sedang sakit berat, "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati." Yesus berkata, "Pergilah, anakmu hidup." Si pegawai dalam keterbatasan manusiawinya takut karena penyakit bisa menyebabkan kematian, tapi Yesus meyakinkan dia tentang penyembuhan dan kehidupan, karena sesungguhnya Ia adalah Sumber kehidupan.

Dengan demikian,  kita disadarkan bahwa;

1) Dunia dengan segala sakit dan penyakitnya bisa menyebabkan kematian, tapi Yesus menawarkan kepada kita kesembuhan dan kehidupan bila kita percaya seperti si pegawai.

2) Iman dan perbuatan si pegawai (Ia datang meminta Yesus menyembuhkan anaknya. Yesus menyuruhnya pergi. Ia percaya dan pulang) dan mendapati bahwa anaknya telah sembuh.

3) Dalam sakit dan derita apa pun tetaplah percaya bahwa Tuhan tak pernah jauh dari kita. Sekalipun Ia mengizinkan kita mengalami sakit dan derita, tapi satu yang pasti bahwa Ia tak pernah membiarkan kita merana dan mati..

Akhirnya, tetaplah yakin pada masa-masa sulit bahwa Yesus akan memulihkan hidup kita. Inilah saat kita ditarik untuk mengandalkan Dia ketika segala tawaran dunia tak mampu menyelesaikan setiap persoalan hidup yang kita alami.

Inilah saatnya kita kembali dan bertemu dengan-Nya dalam hati dan batin kita.

Bac.I, Yes 65 : 17 - 21
Injil, Yoh. 4 : 43 - 54



KABAR VATIKAN

Selasa, 24 Maret 2020

POSITIF dari CORONA

TUHAN MENGAJARKAN MELALUI CORONA
Karya : KH Mustofa Bisri

Vatikan sepi
Yerusalem sunyi
Tembok Ratapan dipagari
Paskah tak pasti
Ka'bah ditutup
Shalat Jumat dirumahkan
Umroh batal
Shalat Tarawih Ramadhan mungkin juga bakal sepi.

Corona datang
Seolah-olah membawa pesan bahwa ritual itu rapuh!
Bahwa "hura-hura" atas nama Tuhan itu semu
Bahwa simbol dan upacara itu banyak yang hanya menjadi topeng dan komoditi dagangan saja.

Ketika Corona datang,
Engkau dipaksa mencari Tuhan
Bukan di Basilika Santo Petrus
Bukan di Ka'bah.
Bukan di dalam gereja.
Bukan di masjid
Bukan di mimbar khotbah
Bukan di majels taklim
Bukan dalam misa Minggu
Bukan dalam sholat Jumat.

Melainkan,
Pada kesendirianmu
Pada mulutmu yang terkunci.
Pada hakikat yang senyap
Pada keheningan yang bermakna.

Corona mengajarimu,
Tuhan itu bukan (melulu) pada keramaian
Tuhan itu bukan (melulu) pada ritual
Tuhan itu ada pada jalan keputus-asaanmu dengan dunia yang berpenyakit.

Corona memurnikan agama
Bahwa tak ada yang boleh tersisa.
Kecuali Tuhan itu sendiri!
Tidak ada lagi indoktrinasi yang menjajah nalar.
Tidak ada lagi sorak sorai memperdagangkan nama Tuhan.

Datangi, temui dan kenali DIA di dalam relung jiwa dan hati nuranimu sendiri.
Temukan Dia di saat yang teduh dimana engkau hanya sendiri bersamaNya.

Sesungguhnya Kerajaan Tuhan ada dalam dirimu.
Qalbun mukmin baitullah.
Hati orang yang beriman adalah rumah Tuhan.

Biarlah hanya Tuhan yang ada.
Biarlah hanya nuranimu yang bicara.
Biarlah para pedagang, makelar, politikus dan para penjual agama disadarkan oleh Tuhan melalui kejadian ini.
Semoga kita bisa belajar dan mengambil hikmah dari kejadian ini.

YESUS TABIB AJAIB

Bac.I, Yeh 47 : 1 - 9. 12
Injil, Yoh. 5 : 1 - 16

Sembuhkan Tubuhku Dan Pulihkanlah Jiwaku

"Orang yang tubuhnya sakit memdambahkan kesembuhan, tapi kita yang berdosa memerlukan ampunan dan pemulihan dari Allah."

Ketika Yesus mendekati kolam Betesda, Ia melihat seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun sakit dan terbaring di sana. Yesus lalu berkata, "Maukah engkau sembuh? " Dan ketika Yesus bertemu kembali lagi dengannya, Ia berkata, "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya kepadamu jangan terjadi yang lebih buruk."

Kisah penyembuhan si sakit dalam Injil ini mengajarkan kepada kita beberapa hal penting ini;

1) Yesus adalah Tabib Ajaib, yang menyembuhkan kita bukan dengan obat, melainkan dengan firman-Nya. Yesus adalah obat bagi jiwa kita.

2) Dalam hidup banyak orang ingin menggapai sesuatu dengan mengorbankan sesama yang kecil yang dilambangkan dengan orang-orang yang berjuang lebih dulu masuk ke kolam ketika airnya bergolak dan tidak menghiraukan si sakit itu.

3) Kadang sakit dan penyakit yang kita alami disebabkan oleh dosa-dosa kita. Tubuh yang sakit memerlukan obat agar sembuh, tapi hati yang berdosa membutuhkan pengampunan dan pemulihan dari Allah.

Akhirnya, di masa-masa sulit ini, marilah kita bertobat sungguh-sungguh seperti raja dan semua penduduk Niniwe dengan sebuah keyakinan bahwa pengampunan Allah akan menyembuhkan dan memulihkan jiwa dan raga kita.

Ingatlah bahwa tubuhmu yang sakit memerlukan obat dari dokter, tapi hati dan jiwamu yang berdosa hanya bisa dipulihkan dengan obat pengampunan Allah.

GADIS itu MARIA

Bac.I, Yes 7 : 10 - 14. 8 : 10
Bac.II, Ibr 10 : 4 - 10
Injil, Luk. 1 : 26 - 38

Gadis Yang Terluka Demi Selamat Manusia

"Kelahiran Sang Juru Selamat bagi dunia adalah kabar suka cita, tapi bagi gadis yang mengandung dan melahirkan tanpa campur tangan seorang laki-laki adalah sebuah Aib."

Maria, si gadis desa itu pasti membayangkan hantaman batu-batu yang dipakai untuk merajamnya kelak, karena menurut adat istiadat Yahudi  hamil di luar nikah adalah aib. Tapi dalam kebingungan dan ketakutan, ia dikuatkan oleh jawaban Malaikat, "Kandungamu berasal dari Roh Kudus." Maka Maria pun percaya dan berkata, "Aku ini hamba Tuhan; Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu."

Pelajaran penting bagi kita adalah;

1) Ketika cinta bertemu dengan iman, maka lahirlah kepercayaan dan penyerahan diri. Maria berserah karena ia percaya akan Allahnya.

2) Ketika cinta itu mencapai kematangan maka pengorbanan akan tampil sebagai pahlawan. Cinta Maria kepada Allah dan sesama membuatnya rela berkorban.

3) Sesaat ketika seseorang berserah kepada Allah maka yang ia bisa buat adalah menanti dengan diam waktunya Allah untuk menolong.

Akhirnya, satu hal yang telah dibuat oleh Maria untuk kita semua adalah lewat rahimnya ia mengandung dan memberi Juru Selamat kepada kita. Maka adalah wajar bila di hari penuh sukacita ini kita ucapkan kalimat pendek ini, "Terima kasih Bunda Maria." Anda tidak harus memanggilnya Bunda agar mau berterima kasih kepadanya, karena walaupun engkau enggan memanggilnya Bunda, tapi ia tetap menganggapmu sebagai anaknya.

EDARAN USKUP KAS - KARNA CORONA



HARI RAYA KABAR SUKACITA BERSAMA KARDINAL

Senin, 23 Maret 2020

JADWAL ON LINE MAPEL SMP 16 SAAT ADA CORONA




BANGGA JADI ANAK KATOLIK

Minggu, 22 Maret 2020

EKARISTI ON LINE

GEREJA AWAL TERBENTUKNYA (9)


Bahan Alkitab:
1 Petrus 2:9-10, Kis. 2:1-13

1.   Pengertian tentang gereja

Kata “gereja” diambil alih dari kata igreja (bahasa Portugis), yang berasal dari kata Yunani, ekklesia, artinya “dipanggil keluar”. Setiap murid Kristus secara pribadi maupun bersama-sama dalam persekutuan orang percaya dipanggil untuk memberitakan kabar baik tentang karya penyelamatan Allah, sehingga banyak orang percaya kepada Yesus.
Selain kata ekklesia, ada kata lain dalam bahasa Yunani yang artinya “gereja, yaitu kuriakon, yang berarti rumah Tuhan. Di sini kata “gereja” lebih menunjuk pada sebuah gedung yang dipakai jemaat untuk beribadah.

Dari penjelasan diatas, kita mencatat beberapa hal:
1)  Gereja adalah gedung atau tempat beribadah umat Kristen.
2)  Gereja adalah setiap orang percaya yang dipanggil dan dikuduskan oleh Allah untuk memberitakan kabar baik tentang karya penyelamatan. Artinya setiap pribadi adalah gereja.
3)  Pribadi-pribadi yang dipanggil oleh Allah dan menyatukan diri dalam persekutuan. Persekutuan yang memberitakan kabar baik itu juga disebut gereja.
4)  Paulus menyebut gereja sebagai Tubuh Kristus (I Kor. 12:12-17), dan Kristus adalah Kepalanya (Ef. 5:23).

2. Awal terbentuknya gereja
Gereja pertama lahir pada saat yang sama dengan perayaan Pentakosta. Pentakosta adalah hari raya umat Yahudi untuk mengungkapkan syukur atas hasil panen. Karena itu, hari raya ini disebut juga dengan “hari raya pengumpulan hasil” (Kel. 23:16). Dalam PL, Pentakosta dirayakan 7 minggu atau 50 hari setelah Paskah.
Alkitab mencatat bahwa para murid berkumpul pada hari Pentakosta sambil menantikan “janji Tuhan. Janji Tuhan itu digenapi melalui turunnya Roh Kudus atas para rasul dan murid-murid lainnya. Mereka dimampukan oleh Roh Kudus untuk mewartakan kabar baik tentang Yesus yang telah bangkit itu beserta pengajaran-Nya. Melalui kuasa Roh Kudus pula orang-orang percaya menyebarkan diri dan mewartakan kabar baik itu ke seluruh dunia, sebagaimana yang diperintahkan olehTuhan sendiri (Mat.28:19-20).

3. Tugas panggilan gereja
·   Gereja mendapat tugas untuk memberi-takan kabar baik (Injil), yang dijabarkan dalam apa yang disebut “tugas panggilan gereja”. Tugas-tugas tersebut adalah sebagai berikut:
·    Bersekutu (koinonia). Baca Kisah 2:1-13; 12:1-17, I Kor. 3:11
Di dalam ikatan persekutuan dengan Tuhan Yesus itulah mereka diberdayakan untuk saling menghibur, menguatkan, berbagi dan memuliakan Allah (Ibrani 10;24-25).
·        Bersaksi (martiria).
Gereja bersaksi bahwa Injil adalah kabar sukacita (Roma 1:16-17, Mark. 16:15, Luk. 24:47).
·        Melayani (diakonia).
Kita melayani karena Allah lebih dulu melayani kita (Mark. 10:45). Melayani merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan karena telah menyelamatkan kita. Pelayanan kepada Allah itu juga ditujukan kepada sesama (semua orang) dan alam sekitar kita. Allah memberikan mandat kepada kita untuk mengusahakan dan memelihara alam.
·  Koinonia, martiria dan diakonia biasa disebut sebagai “Tri Tugas Panggilan Gereja”. Namun ada satu tugas yang juga tidak kalah penting, yakni mengajar (didaskalia).
·        Fungsi gereja adalah menerima apa yang diterimanya dari Bapa, satu-satunya Guru di dalam gereja (Mat. 23:8-9).
·   Mengajar adalah kegiatan yang ditugaskan oleh Tuhan sendiri kepada gereja-Nya agar warganya bertumbuh menjadi dewasa sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga mereka senantiasa siap memberi pertanggunganjawab atas iman dan pengharapan mereka dalam Kristus  (Ef. 4:1-16; I Pet. 3:15). Inti pengajaran gereja adalah undangan Allah bagi manusia untuk bertobat dan membarui diri seturut kehendak-Nya.

4.  Istilah-istilah
Ø Ekklesia (Yunani) artinya “dipanggil keluar” untuk memberitakan kabar baik tentang Yesus sebagai “terang hidup” yang menyelamatkan.
Ø Pentakosta artinya “hari kelima puluh”. Dalam tradisi Yahudi, ini dirayakan sebagai pesta panen. Dalam tradisi kekristenan, Pentakosta adalah “hari turunnya Roh Kudus”.
Ø Gereja disebut “tubuh Kristus”, artinya persekutuan orang percaya yang dipimpin dan menjadi milik Kristus. Yesus Kristus adalah Kepala gereja.
Ø Orang Kristen adalah orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus (pengikut Kristus).

Kamis, 19 Maret 2020

LITURGI BERBEDA KETIKA PRAPASKAH


  • Kemuliaan dan Alleluia tidak dinyanyikan selama masa Prapaskah, kecuali pada hari raya wajib selama masa Prapaskah, yaitu HR St. Yusuf (tgl. 19 Maret) dan HR Kabar Sukacita (tgl. 25 Maret)
  • Ikon-ikon kudus ditutupi, menandakan masa “umat di padang gurun”, hiasan-hiasan sebaiknya tidak dibuat mewah, hiasan bunga ditiadakan selama masa Prapaskah. Alat-alat musik hanya boleh dimainkan secara sederhana untuk mengiringi nyanyian dan yang menggarisbawahi ciri tobat.
  • Sejalan dengan itu, maka Perayaan-perayaan atau pesta-pesta dan resepsi tidak dianjurkan selama masa Prapaskah. Demikian biasanya penerimaan Sakramen Perkawinan dan Imamat ditiadakan selama masa Prapaskah. Tetapi pemberesan perkawinan bagi mereka yang terkena ekskomunikasi sangat dianjurkan selama Masa Prapaskah (lihat poin di atas). Pastor paroki dimohon secara bijaksana mencermati dan mengambil kebijakan sebaik mungkin dalam situasi dan kebutuhan pelayanan umat ini.
  • Hari Minggu Palma : Mengenangkan Sengsara Tuhan. Liturgi dimulai dengan upacara di luar Gereja, dilanjutkan perarakan menuju Gereja sambil membawa daun-daun palma yang telah diberkati. Dalam Bacaan terdapat Kisah Sengsara Yesus, untuk tahun 2011 (Tahun Liturgi A), dibacakan Kisah Sengsara menurut St. Matius
  • Liturgi Tri Hari Suci.
  • Kamis Putih: Penetapan Perjamuan Suci / Peringatan Perjamuan Malam Terakhir.
    • Pagi hari di Katedral: Misa Krisma
    • warna liturgi : Putih, ada pembasuhan kaki, perarakan dan pentahtaan Sakramen Mahakudus, hiasan altar “dilucuti” setelah Ekaristi (terakhir).
    • ibadat tuguran: satu jam bersama Yesus, ibadat ini dapat dilaksanakan secara umum setiap jam atau bergiliran tiap lingkungan. 
  • Jumat Agung : Peringatan Sengsara dan Wafat Tuhan Yesus Kristus.
    • Altar polos dan bersih dari segala hiasan, tabernakel kosong dan terbuka.
    • Warna liturgi: Merah, tidak ada Ekaristi, tidak ada Tanda Salib, tidak ada nyanyian, kecuali Bait Pengantar Injil, langsung pembacaan KS, Pasio (Kisah Sengsara Tuhan) dari Injil Yohanes, Penghormatan Salib, Doa Umat meriah, Berkat meriah.
    • Dapat diterimakan komuni setelah penghormatan Salib.
  • Sabtu Vigili: Malam Tirakatan Kebangkitan Tuhan: Merenungkan Tuhan yang Bangkit dan mengalahkan maut, membawa Terang dan memperbaharui hidup umat manusia.
    • Liturgi Cahaya: Upacara Lilin Paskah dan Pujian Paskah
    • Liturgi Bacaan: Dibacakan 9 Bacaan Kitab Suci : 7 dari PL dan 1 Surat St Paulus dan Kutipan Injil Matius (Tahun A)
    • Liturgi Baptis: Pemberkatan Air dan Pembaharuan Janji Baptis, Pemercikan Air Baptis kepada seluruh umat, malam paling tepat bila mau mengadakan pembaptisan.
    • Liturgi Ekaristi dan Berkat Paskah meriah dengan Alleluia.
  • HR Paskah Kebangkitan Tuhan: Bersukacita karena Tuhan telah bangkit,
    • Ekaristi Pagi : Resurrexit, Kabar Sukacita karena Tuhan telah bangkit (Yoh 20:1-9)
    • Ekaristi Sore : Kebangkitan Tuhan Mengobarkan Semangat bagi yang Putus Asa (Luk 24:13-35)

MASYARAKAT KATOLIK DI INDONESIA

ADA WABAH TIDAK PANIKLAH

Rabu, 18 Maret 2020

jalan senyap ikut yesus

Bac.I, 2Sam 7 : 4 - 5a. 12 - 14a. 16
Bac.II, Rom 4 : 13. 16 - 18. 22
Injil, Mat 1 : 16. 18 - 21. 24a
Hari Raya St. YUSUF, Suami Santa Perawan MARIA

Mengikuti Yesus Dalam Jalan Senyap

"Aku memilih mengikuti Yesus dalam dan melalui jalan dan lorong-lorong senyap sehingga aku memiliki banyak waktu untuk mendengarkan Dia daripada berbicara tentang Dia."

Kata-kata di atas menggambarkan pribadi St. Yusuf dalam jalan dan lorong sunyi nan senyap ketika dipilih oleh Allah untuk menemani Maria yang dikaruniai Tuhan untuk mengandung Yesus Putra-Nya. Beberapa ayat Kitab Suci menggambarkan diamnya St. Yusuf seperti:

1) Ketika Malaikat Tuhan mendatangi dia dalam mimpi dan berkata, "Yusuf, anak Daud, janganlah takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab Anak yang ada di dalam kandungannya  adalah dari Roh Kudus." ( Mat.1 : 20 ). Yusuf diam tapi bangkit dan mengambil Maria sebagai istrinya.

2) Ketika bersama Maria kembali ke Yerusalem untuk mencari Yesus, hanya Maria, ibu Yesus yang berkata kepada-Nya, "Nak, mengapa Engkau berbuat demikian terhadap kami. Bapa-Mu dan aku cemas mencari-Mu." ( Luk. 2 : 48 ). Yusuf hanya diam dan menghantar pulang Yesus dan Maria ke Nazaret.

Dua kutipan di atas melukiskan jalan diam, sunyi dan senyap seorang Yusuf yang lebih suka mendengarkan Tuhan dan melakukan kehendak dan perintah-Nya daripada bertanya dan berdiskusi.

Karena itu, pada hari Raya St. Yusuf ini, kita diajarkan untuk;

1) Diam dan tenangkan hati bila ingin mendengarkan suara Tuhan.

2) Melakukan kehendak dan perintah Tuhan dalam dan melalui jalan diam, sunyi dan senyap, jauh dari hiruk pikuk dan niat untuk populer jauh lebih berati di mata Tuhan.

3) Mencintai Tuhan dan sesama dengan tulus jauh lebih indah daripada mengumbarkan kata dan kalimat cinta tanpa tindakan nyata.

Akhirnya kubisikan kepadamu bahwa ada banyak jalan dan cara mengikuti Yesus, tapi ketika Anda memilih jalan dan lorong sunyi dan senyap jauh dari keinginan untuk mendapatkan kepopuleran diri maka yakinlah bahwa Anda berada dalam jalan lurus dan aman kepada Dia yang memanggilmu.

BAHAGIA MESKI ADA CORONA

Selasa, 17 Maret 2020

TOKOH BERPENGARUH DALAM HIDUP

Senin, 16 Maret 2020

MENGAMPUNI






FAKTA PENGAMPUNAN

Dalam kehidupan kita, sering kita lihat bahwa tidak semua orang bila melakukan kesalahan cepat-cepat untuk meminta maaf atas kesalahannya. 
Demikian pula tidak semua orang yang mau dengan senang hati untuk memaafkan atau memberi pengampunan kepada orang yang bersalah dan berusaha meminta maaf atau mohon pengampunan padanya, apa lagi jika dirasa bahwa kesalahannya sungguh terlalu berat dan menyakitkan hati. 

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan orang sulit untuk memaafkan atau juga orang sulit untuk meminta maaf atas kesalahannya, yaitu antara lain: 
  • karena keinginan untuk mempertahankan “harga diri” atau wibawa, 
  • karena gengsi,

Ketidakmampuan memaafkan atau mengampuni dapat mengakibatkan: 
  • menumbuhkan rasa dendam, yang sesungguhnya dapat merugikan diri sendiri, 
  • orang yang bersalah pada akhirnya menanggung rasa bersalah secara berkepanjangan, 
  • tumbuhnya permusuhan dan kebencian. 

Meminta maaf atau memberi pengampunan, sesungguhnya dapat menguntungkan, baik bagi yang bersalah maupun bagi orang yang telah dirugikan. 

Dengan mau mengampuni, ataupun mau meminta maaf, akan dapat menjadikan hati kita tenang, tenteram, damai, jauh dari segala permusuhan dan dendam, bahkan dengan memaafkan atau meminta maaf, hubungan kita dengan sesama dan dengan Tuhan akan tetap terjalin dengan harmonis dan menyenangkan

YESUS PENGAMPUN

Memahami bahwa Yesus Kristus adalah pengampun dan penuh belas kasihan dapat menolong kita mengampuni dan mengulurkan belas kasihan kepada orang lain. 
“Yesus Kristus adalah Teladan kita,” kata Presiden Thomas S. Monson. 
“Kehidupan-Nya merupakan pusaka kasih. Yang sakit Dia sembuhkan, yang kesusahan Dia angkat, yang berdosa Dia selamatkan. Pada akhirnya, khalayak yang marah merenggut hidup-Nya. Tetapi terdengarlah dari bukit Golgota perkataan ini: ‘Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat’—ungkapan tertinggi dalam kefanaan akan rasa iba dan kasih.”

Jika kita mengampuni orang lain atas pelanggaran mereka, Bapa Surgawi kita juga akan mengampuni kita. Yesus meminta kita “hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” (Lukas 6:36). 
“Pengampunan bagi dosa-dosa kita datang dengan syarat,” kata Presiden Dieter F. Uchtdorf, Penasihat Kedua dalam Presidensi Utama. 
“Kita harus bertobat …. Bukankah kita semua, pada suatu ketika, telah dengan lembut hati mendekati kursi belas kasihan dan memohon kasih karunia? Bukankah kita telah berharap dengan seluruh tenaga dari jiwa kita bagi belas kasihan—untuk diampuni dari kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat dan dosa-dosa yang telah kita lakukan? … Perkenankan Pendamaian Kristus mengubah dan menyembuhkan hati Anda. Kasihilah satu sama lain. Ampunilah satu sama lain.”

“Kita harus mengampuni bahkan seperti kita diampuni,” kata Penatua Jeffrey R. Holland dari Kuorum Dua Belas Rasul. 
Cerita tentang anak yang hilang memperlihatkan kepada kita kedua sisi dari pengampunan: satu anak diampuni dan anak yang lainnya bergumul untuk mengampuni.

Anak yang bungsu mengambil warisannya, menghabiskannya dengan cepat, dan ketika kelaparan muncul, dia bekerja memberi makan babi. 

Tulisan suci mengatakan “lalu ia menyadari keadaannya,” dia kembali pulang dan mengatakan kepada ayahnya bahwa dia tidak layak untuk menjadi anaknya. Tetapi ayahnya mengampuni dia dan menyembelih anak lembu yang tambun untuk pesta. Anak yang sulung kembali dari bekerja di ladang dan menjadi marah. Dia mengingatkan ayahnya bahwa dia telah bertahun-tahun melayani ayahnya dan belum pernah melanggar perintah, tetapi “kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita.” 

Kata ayahnya kepadanya, “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali” (lihat Lukas 15:11–32).

Pengampunan Menurut Yesus 
  • Yesus mengoreksi pendapat Petrus. “Bukan!, Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Pengampunan itu tanpa batas, tanpa perhitungan. Karena pengampunan kepada sesama tidak mungkin dipisahkan dari pengampunan Allah. Pengampunan Allah jauh melampaui pengertian pada umumnya serta melampaui segala perhitungan. 
  • Pada kesempatan lain, Yesus melakukan pengampunan kepada perempuan yang kedapatan berjinah. Kepada perempuan yang berdosa ini, Yesus tidak mengadili, tetapi memberi kesempatan kepada perempuan tersebut untuk berubah dan tidak melakukan dosa lagi. Yesus memberi kesempatan kepada pendosa itu untuk bertobat. 
  • Kesediaan untuk mengampuni merupakan kualitas spiritualitas yang tinggi. Semakin mampu mengampuni, berarti kita semakin diperkaya oleh kasih Allah, semakin dimampukan untuk dipakai sebagai alat-Nya secara tepat.

Lewis B. Smedes di dalam bukunya yang berjudul 
Mengampuni & Melupakan (Forgive & Forget) 
menuliskan ada empat tahap Pemberian Maaf. 
  1. Tahap pertama adalah sakit hati. Ketika seseorang menyebabkan Anda sakit hati begitu mendalam dan secara curang sehingga Anda tidak dapat melupakannya. Anda terdorong ke tahap pertama krisis pemberian maaf. 
  2. Tahap kedua adalah membenci. Anda tidak bisa mengenyahkan ingatan tentang seberapa besar Anda sakit hati, dan Anda tidak bisa mengharapkan musuh Anda baik-baik saja. Anda kadang-kadang menginginkan orang yang menyakiti Anda juga menderita seperti Anda. 
  3. Tahap ketiga adalah menyembuhkan. Anda diberi sebuah “mata ajaib” untuk melihat orang yang menyakiti hati Anda dengan pandangan baru. Anda disembuhkan, Anda menolak kembali aliran rasa sakit dan Anda bebaskembali. 
  4. Tahap keempat adalah berjalan bersama; Anda mengundang orang yang pernah menyakiti hati Anda memasuki kembali dalam kehidupan Anda. Kedatangannya yang tulus membuat Anda berdua akan menikmati hubungan yang dipulihkan kembali